Jumat, 17 Januari 2014

Mengkaji Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW



          Sobat muda,  kita masih di Rabiul awal nih, Maulid Nabi baru beberapa hari yang lalu. Dikalender Masehi kita lihat pasti selalu berwarna merah pada tanggal Maulid Nabi. Sobat, mari kembali mencermati kondisi ummat Islam yang secara eksternal mendapatkan serangan dan permusuhan dari musuh-musuhnya dan secara internal teramat rapuh dengan jauhnya mereka dari cahaya risalah kenabian. Banyak kita lihat perbedaan-perbedaan pandangan mengenai Maulid ini sob.

            Emm.. tau gak sob, asal muasal peringatan Maulid Nabi? Don’t worry sob pasti ana bagi tau. Insha Allah kita akan tetap bersua di blog ini.
        So pasti tau donk dengan seorang tokoh yang bernama Shalahuddin Al-Ayyubi? Yuup, benar banget sob, coba ingat kembali mata pelajaran IPS pembahasan perang salib.
“Afwan gue gak pernah sekolah, jadi gak tau tuh. Apa???
“Haa…Loe kagak tau??? Masya Allah….
“dasar lho gak peduli amat sama agama lho sendiri… huhhh…

Udah, udah jangan ngomel-ngomel, ana pasti bagi tau kok, santai donk.

Shalahuddin Al-Ayyubi (1138-1193 M) pahlawan legendaris Muslim dalam Perang Salib mencetuskan ide Peringatan Hari Kelahiran Nabi Saw dan menjadikannya sebagai wasilah yang dapat mengobarkan kembali kecintaan kepada agama, meneriakkan kebenaran Ilahi yang tampak senyap, menyulut api spritualitas yang sempat meredup sekaligus merajut kembali secara rapi tali ukhuwah yang kusut dan bercerai berai dengan mengingat kembali keteladanan yang dicontohkan  Rasululullah Saw dalam berbagai aspek kehidupan.       

Dan hasilnya, ternyata memuaskan sob, semangat jihad ukhuwah terjalin dan ummat Islam yang diambang kehancuran berbalik arah ditaburi kemenangan dan sejarah keagungan yang tak terlupakan. 




Lewat peringatan maulid yang berhasil menggelorakan kembali semangat pantang hina umat Islam, pasukan Shalahudin Al Ayyubi  berhasil memukul mundur tentara gabungan salib dari Eropa yang dikomandani  Raja Inggris Richard Lion Heart dan merebut kembali Palestina dan Masjidil Aqsha dari genggaman para penjajah.

Karenanya, jika kita di bulan ini memperingati Maulid Nabi Saw, hendaknya termotivasi sebagaimana Shalahuddin Al Ayyubi melakukannya, yaitu untuk  membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat ini. Terlebih lagi, bumi Palestina dan Masjid al Aqsha kembali dalam penguasaan kaum kuffar. Momentum peringatan kelahiran Nabi mestinya menjadi media pemersatu ummat bukan malah menjadi ajang saling berselisih. 

“Trus gimana dengan hukum memperingati Maulid Nabi???”
“sabar donk… lanjutin baca kebawah, jangan setengah-setengah, oke…” hehee… smile donk smile… ^_^, srius banget loe…

Hukum Peringatan Maulid

Sobat Muda, Meskipun di negeri ini secara resmi hari Maulid Nabi ditetapkan sebagai hari besar keagamaan, kita tidak bisa memungkiri keberadaan kelompok Islam yang enggan untuk turut memperingatinya. Keengganan itu patut kita apresiasi sebagai bentuk kecintaan juga.  

Sebab keengganan mereka dikhawatirkan bahwa perbuatan tersebut terkategorikan bid'ah yang dilarang Islam. Atau minimal menyerupai perayaan kelompok Nashrani yang memperingati kelahiran Yesus Kristus. Sebab Nabi Saw telah mewanti-wanti, “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan kaum itu” (Sunan abu Dawud Juz 4/78). Tentu pendapat tersebut patut dihargai, bukan dijadikan dalih untuk saling bermusuhan dan berpecah belah. 

Namun tetap patut diketahui, setidaknya oleh dua ulama besar Islam, Syaikh Ibnu Hajar al Atsqalani dan Imam Jalaluddin as-Suyuti meskipun tetap menyebut peringatan Maulid Nabi sebagai amalan bid'ah namun tidak namun tetap patut diketahui, setidaknya oleh dua ulama besar Islam, Syaikh Ibnu Hajar al Atsqalani dan Imam Jalaluddin as-Suyuti meskipun tetap menyebut peringatan Maulid Nabi sebagai amalan bid'ah namun tidak mengkategorikannya sebagai bid'ah yang terlarang melainkan bid'ah hasanah (inovasi yang  baik).  

Keduanya   mengatakan   bahwa status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Karenanya bisa dikatakan, bahwa tidak semua yang tidak dilakukan Nabi itu tertolak dan dipastikan sebagai bid'ah sesat. Untuk menguatkan pendapatnya, Ibnu Hajar menukil hadits Nabi Saw, “Siapa saja yang membuat suatu tradisi yang baik (tidak bertentangan dengan syariat) maka dia mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengerjakannya” (Shahih Bukhari).

Beragama :    Penghayatan             dan Kesemarakan 

Sobat Muda, Tidak ada seorang muslimpun yang mengingkari wajibnya memberikan kecintaan kepada Nabi bahkan diharuskan melebihi dari kecintaan terhadap diri sendiri. Para sahabat mengapresiasikan kecintaannya kepada Nabi dengan mencintai apa saja yang datang dari beliau, hatta ludah sekalipun. Karena kecintaan kepada Nabi Saw, para sahabat berebutan mengambil lembaran rambut, tetesan air wudhu, keringat, atau apa saja yang ditinggalkan Rasul. Salah satu ungkapan cinta ialah mengenang dan memuliakan atsar, yakni apa saja –waktu, peristiwa, tempat- yang berkaitan dengan yang kita cintai. 

Lihatlah, dinegara manapun selalu ada monumen- monumen besar untuk mengenang peristiwa besar, tempat-tempat bersejarah dan momen-momen penting dari pemimpin negara yang mereka cintai, penting lainnya yang berkaitan dengan sang kekasih Muhammad Saw meskipun peringatan tersebut dikatakan bid’ah. Selama kaum muslimin mencintai Nabi, selama itu pula peringatan dan ziarah ke makam, gua Hira dan sebagainya akan terus berlangsung.

Imam As-Suyuti mengapresiasi peringatan maulid sebagai ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Saw ke muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam Kitab Al-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam. Memperingati maulid Nabi adalah ungkapan kecintaan sekaligus kesyukuran atas kehadiran

beliau di muka bumi menghidayai ummat manusia dan menyelematkannya dari lembah kesesatan. Karenanya, peringatan ceremonial semacam maulid sangatlah dibutuhkan umat akhir-akhir ini, sebagai momentum untuk membincangkan keagungan dan kemuliaan nabi Muhammad Saw, untuk menyiarkan banyak dari sunnah-sunnah nabi yang terabaikan, untuk lebih memperkenalkan kemulian akhlak Rasulullah kepada mereka yang memendam dendam dan kebencian karena ketidak tahuan.

"Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah." (Qs. Ibrahim: 5)”   

Mari kita jadikan Rabiul Awal (yang masyhur dikenal sebagai bulan lahir dan wafatnya Rasulullah Muhammad Saw) sebagai momentum untuk memperingatinya, sebagai ungkapan kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. untuk menghidupkan ghirah keislaman kita, membina semangat profetis agar bulan-bulan selanjutnya sampai ke bulan Rabiul Awal selanjutnya yang kita lakukan adalah kerja-kerja kenabian. 

Secara sosiologis, dengan asumsi kehidupan manusia di abad ini, dengan kecenderungan bergaya hidup konsumeristik, hedonistik, dan materialistik, punya andil cukup besar terhadap terkikisnya tingkat kesadaran  seseorang termasuk kecenderungannya dalam beragama, maka peringatan maulid Nabi menjadi tuntutan religius yang penting. Kita berupaya menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah agar membuat takjub kaum muslimin dan pada saat yang sama membuat murka musuh-musuh Islam. Kesemarakan yang terjadi dalam setiap peringatan    

       Maulid bukanlah untuk dilarang, tetapi untuk diluruskan penyimpangan yang terjadi di dalamnya, untuk diarahkan kepada penghayatan makna peringatan perjalanan nabi sesungguhnya. Kesemarakan adalah bagian dari syiar agama, sementara syiar sendiri bagian dari pendalaman agama. Dengan syiar para ulama atau tokoh agama bisa berperan dalam membina masyarakat. 

      “Dan tetaplah mengadakan peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Adz Dzariyat : 55).

menurut Ustadz Felix Siauw, Maulid Nabi itu ya berarti hari kelahiran Nabi Muhammad saw.  kalau menurut mayoritas ulama yaitu 12 Rabiul Awwal. Dalam sirah Nabi kita tidak menemukan riwayat perayaan secara khusus oleh Nabi di hari lahirnya  ataupun melakukan ritual tertentu, pun di zaman sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in serta ulama salaf tidak ada yang mengkhususkan hari lahir Nabi saw peringatan khusus atas Maulid ini baru ada di generasi setelahnya ada sumber bahwa Salahuddin Al-Ayyubi yang pertama mengawalinya dalam usahanya membebaskan Al-Quds (Yerusalem) dari penjajah tentara salib Salahuddin memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, tujuan peringatan Maulid ini mempertinggi semangat jihad kaum Muslim dengan membacakan kisah hidup Nabi Muhammad saw. 

pada 1184 M Salahuddin megumpulkan ulama untuk mengisahkan kisah Rasulullah dalam sebuah syair untuk menyemangati Muslim adalah Syaikh Ja'far Al-Barzanji yang akhirnya terpilih untuk mengisahkannya  jadilah syair "Barzanji" seperti kita kenal sekarang  "Barzanji" ini ditulis untuk meningkatkan kecintaan ummat pada Nabi  yang diharapkan akan mencontoh perjuangan beliau saw alhamdulillah semangat dan persatuan kaum Muslim diawali peringatan ini lalu Al-Quds dapat dibebaskan pada 1187 M oleh Muslim. 

pada masa kini ada pro-kontra tentang "Maulid Nabi" ini sebagian mengatakan bid'ah (penyimpangan) sebagian lagi membolehkannya yang menganggapnya penyimpangan (bid'ah)  berdalil bahwa Muslim dilarang merayakan apapun yang tidak dirayakan Rasulullah sedangkan yang membolehkan "Maulid Nabi" bersandar pada dalil bahwa Imam Suyuthi dan Ibnu Hajar membolehkannya 

lalu bagaimana mendudukkan kedua perkara pro-kontra Maulid Nabi ini? kita coba sedikit mengupasnya. dalam Islam, bid'ah itu sesuatu yang dilarang Rasulullah pelakunya berada dalam kesesatan, dan kesesatan ada di neraka.

sejauh yang saya pelajari (semoga Allah maafkan bila tersilap) bid'ah adalah penyimpangan dalam hal ibadah, bukan selain ibadah contoh bid'ah misalnya menambah shalat subuh dari 2 rakaat menjadi 3 rakaat atau shalat isya dari 4 rakaat jadi 3 rakaat, ini bid'ah namun bila penyesuaian tatacara (wasilah), maka dalam kajian saya ini bukan bagian bid'ah misalnya peringatan "Maulid Nabi", maka bid'ah ini hanya berkaitan dengan ibadah ritual (ibadah mahdhah) saja  sedangkan perantaranya (wasilah) tidak termasuk bid'ah misalnya lagi, dahulu Al-Qur'an di masa Rasul dan sahabat ditulis di kulit atau tulang  masa kini di laptop dan HP, itu bukan bid'ah 
 
dahulu di masa Rasulullah pendidikan dilakukan secara tatap muka  masa kini bisa dengan online maka sah, tidak bid'ah maka peringatan "Maulid Nabi" bisa disamakan dengan membaca Sirah Nabi hanya saja dilakukan secara berjama'ah di peringatan Maulid Nabi kita diingatkan dengan kisah beliau dalam berjuang semakin mencintai dan menyayangi beliau saw  maka peringatan "Maulid Nabi" adalah bagian dari Majlis Ta'lim, Majlis Ilmu mendatanginya insyaAllah mendapat ilmu dan manfaat apalagi "Barzanji"-nya diartikan dalam bahasa Indonesia, malah lebih bagus lagi



banyak yang tadinya nggak paham jadi paham kisah Nabi jadi justru "Maulid Nabi" ini harus jadi momentum persatuan dan pengingat  bagaimana perjuangan Nabi untuk Islam dan kita lalu bagaimana bila ada pendapat lain yang tetap menolak Maulid Nabi?

ya sudahlah, sama-sama saudara, selama berdalil, legowo aja sesama Muslim itu harus saling menjaga, saling sayang masak "Maulid Nabi" dijadikan alasan ribut dan rusuh saudara sendiri?  yang punya dalil ikut Maulid Nabi ya jalan yang yakin Maulid Nabi itu bid'ah ya tinggalkan sesama Muslim harus saling memahami ingat-ingat bahwa memperingati "Maulid Nabi" bisa jadi berpahala, bisa jadi tidak  tapi rusuh sesama Muslim sudah jelas menyedihkan  jadi clear ya yang penting woles dan adem sama saudara sendiri  jangan galak, jangan ngamuk yang tau ilmu tentu baik perangainya"

Semoga Bermanfaat ya Sob,
Salam Ukhuwah Fillah
Alfira Khairunnisa




 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar