Emm..
tau gak sob, asal muasal peringatan Maulid Nabi? Don’t worry sob pasti ana bagi
tau. Insha Allah kita akan tetap bersua di blog ini.
So pasti tau donk dengan seorang tokoh
yang bernama Shalahuddin Al-Ayyubi? Yuup, benar banget sob, coba ingat kembali
mata pelajaran IPS pembahasan perang salib.
“Afwan gue gak pernah sekolah, jadi
gak tau tuh. Apa???
“Haa…Loe kagak tau??? Masya Allah….
“dasar lho gak peduli amat sama
agama lho sendiri… huhhh…
Udah, udah jangan ngomel-ngomel, ana
pasti bagi tau kok, santai donk.
Shalahuddin Al-Ayyubi (1138-1193 M) pahlawan legendaris Muslim dalam Perang
Salib mencetuskan ide Peringatan Hari Kelahiran Nabi Saw dan menjadikannya
sebagai wasilah yang dapat mengobarkan kembali kecintaan kepada agama,
meneriakkan kebenaran Ilahi yang tampak senyap, menyulut api spritualitas yang sempat
meredup sekaligus merajut kembali secara rapi tali ukhuwah yang kusut dan
bercerai berai dengan mengingat kembali keteladanan yang dicontohkan Rasululullah Saw dalam berbagai aspek kehidupan.
Dan hasilnya, ternyata memuaskan sob,
semangat jihad ukhuwah terjalin dan ummat Islam yang diambang kehancuran
berbalik arah ditaburi kemenangan dan sejarah keagungan yang tak terlupakan.
Lewat peringatan maulid yang
berhasil menggelorakan kembali semangat pantang hina umat Islam, pasukan
Shalahudin Al Ayyubi berhasil memukul mundur tentara gabungan salib dari
Eropa yang dikomandani Raja Inggris
Richard Lion Heart dan merebut kembali Palestina dan Masjidil Aqsha dari
genggaman para penjajah.
Karenanya, jika kita di bulan ini
memperingati Maulid Nabi Saw, hendaknya termotivasi sebagaimana Shalahuddin Al
Ayyubi melakukannya, yaitu untuk
membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw, serta meningkatkan semangat
juang kaum muslimin saat ini. Terlebih lagi, bumi Palestina dan Masjid al Aqsha
kembali dalam penguasaan kaum kuffar. Momentum peringatan kelahiran Nabi
mestinya menjadi media pemersatu ummat bukan malah menjadi ajang saling
berselisih.
“Trus gimana dengan hukum
memperingati Maulid Nabi???”
“sabar donk… lanjutin baca kebawah,
jangan setengah-setengah, oke…” hehee… smile donk smile… ^_^, srius banget loe…
Hukum Peringatan
Maulid
Sobat Muda, Meskipun di negeri ini
secara resmi hari Maulid Nabi ditetapkan sebagai hari besar keagamaan, kita
tidak bisa memungkiri keberadaan kelompok Islam yang enggan untuk turut
memperingatinya. Keengganan itu patut kita apresiasi sebagai bentuk kecintaan juga.
Sebab keengganan mereka
dikhawatirkan bahwa perbuatan tersebut terkategorikan bid'ah yang dilarang
Islam. Atau minimal menyerupai perayaan kelompok Nashrani yang memperingati
kelahiran Yesus Kristus. Sebab Nabi Saw telah mewanti-wanti, “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia
termasuk dalam golongan kaum itu” (Sunan abu Dawud Juz 4/78). Tentu pendapat tersebut patut
dihargai, bukan dijadikan dalih untuk saling bermusuhan dan berpecah belah.
Namun tetap patut diketahui,
setidaknya oleh dua ulama besar Islam, Syaikh Ibnu Hajar al Atsqalani dan Imam
Jalaluddin as-Suyuti meskipun tetap menyebut peringatan Maulid Nabi sebagai
amalan bid'ah namun tidak namun tetap patut diketahui, setidaknya oleh dua
ulama besar Islam, Syaikh Ibnu Hajar al Atsqalani dan Imam Jalaluddin as-Suyuti
meskipun tetap menyebut peringatan Maulid Nabi sebagai amalan bid'ah namun
tidak mengkategorikannya sebagai bid'ah yang terlarang melainkan bid'ah
hasanah (inovasi yang baik).
Keduanya
mengatakan bahwa status hukum
maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Karenanya bisa
dikatakan, bahwa tidak semua yang tidak dilakukan Nabi itu tertolak dan
dipastikan sebagai bid'ah sesat. Untuk menguatkan pendapatnya, Ibnu Hajar
menukil hadits Nabi Saw, “Siapa saja yang membuat suatu
tradisi yang baik (tidak bertentangan dengan syariat) maka dia mendapatkan
pahala dan pahala orang yang mengerjakannya” (Shahih
Bukhari).
Beragama : Penghayatan
dan Kesemarakan
Sobat Muda, Tidak ada seorang
muslimpun yang mengingkari wajibnya memberikan kecintaan kepada Nabi bahkan
diharuskan melebihi dari kecintaan terhadap diri sendiri. Para sahabat
mengapresiasikan kecintaannya kepada Nabi dengan mencintai apa saja yang datang
dari beliau, hatta ludah sekalipun. Karena kecintaan kepada Nabi Saw, para
sahabat berebutan mengambil lembaran rambut, tetesan air wudhu, keringat, atau
apa saja yang ditinggalkan Rasul. Salah satu ungkapan cinta ialah mengenang dan
memuliakan atsar, yakni apa saja
–waktu, peristiwa, tempat- yang berkaitan dengan yang kita cintai.
Lihatlah, dinegara manapun selalu
ada monumen- monumen besar untuk mengenang peristiwa besar, tempat-tempat
bersejarah dan momen-momen penting dari pemimpin negara yang mereka cintai,
penting lainnya yang berkaitan dengan sang kekasih Muhammad Saw meskipun
peringatan tersebut dikatakan bid’ah. Selama kaum muslimin mencintai Nabi,
selama itu pula peringatan dan ziarah ke makam, gua Hira dan sebagainya akan
terus berlangsung.
Imam As-Suyuti mengapresiasi
peringatan maulid sebagai ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Saw ke
muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam Kitab Al-Ni’mah Al-Kubra Ala
Al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam. Memperingati maulid Nabi adalah ungkapan
kecintaan sekaligus kesyukuran atas kehadiran
beliau di muka bumi menghidayai ummat manusia dan
menyelematkannya dari lembah kesesatan. Karenanya, peringatan ceremonial
semacam maulid sangatlah dibutuhkan umat akhir-akhir ini, sebagai momentum
untuk membincangkan keagungan dan kemuliaan nabi Muhammad Saw, untuk menyiarkan
banyak dari sunnah-sunnah nabi yang terabaikan, untuk lebih memperkenalkan
kemulian akhlak Rasulullah kepada mereka yang memendam dendam dan kebencian
karena ketidak tahuan.
"Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan
ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah." (Qs. Ibrahim: 5)”
Mari
kita jadikan Rabiul Awal (yang masyhur dikenal sebagai bulan lahir dan wafatnya
Rasulullah Muhammad Saw) sebagai momentum untuk memperingatinya, sebagai
ungkapan kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. untuk menghidupkan ghirah
keislaman kita, membina semangat profetis agar bulan-bulan selanjutnya sampai
ke bulan Rabiul Awal selanjutnya yang kita lakukan adalah kerja-kerja kenabian.
Secara sosiologis, dengan asumsi
kehidupan manusia di abad ini, dengan kecenderungan bergaya hidup
konsumeristik, hedonistik, dan materialistik, punya andil cukup besar terhadap
terkikisnya tingkat kesadaran seseorang
termasuk kecenderungannya dalam beragama, maka peringatan maulid Nabi menjadi
tuntutan religius yang penting. Kita berupaya menumbuhkan kecintaan kepada
Rasulullah agar membuat takjub kaum muslimin dan pada saat yang sama membuat
murka musuh-musuh Islam. Kesemarakan yang terjadi dalam setiap peringatan
Maulid bukanlah untuk dilarang, tetapi
untuk diluruskan penyimpangan yang terjadi di dalamnya, untuk diarahkan kepada
penghayatan makna peringatan perjalanan nabi sesungguhnya. Kesemarakan adalah
bagian dari syiar agama, sementara syiar sendiri bagian dari pendalaman agama.
Dengan syiar para ulama atau tokoh agama bisa berperan dalam membina
masyarakat.
“Dan tetaplah mengadakan peringatan,
karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
(Qs. Adz Dzariyat : 55).
menurut Ustadz Felix Siauw, Maulid Nabi itu ya berarti
hari kelahiran Nabi Muhammad saw. kalau menurut mayoritas ulama yaitu 12 Rabiul Awwal.
Dalam sirah Nabi kita tidak menemukan riwayat perayaan secara khusus oleh Nabi
di hari lahirnya ataupun melakukan
ritual tertentu, pun di zaman sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in serta ulama
salaf tidak ada yang mengkhususkan hari lahir Nabi saw peringatan khusus atas
Maulid ini baru ada di generasi setelahnya ada sumber bahwa Salahuddin Al-Ayyubi
yang pertama mengawalinya dalam usahanya membebaskan Al-Quds (Yerusalem) dari
penjajah tentara salib Salahuddin memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, tujuan
peringatan Maulid ini mempertinggi semangat jihad kaum Muslim dengan membacakan
kisah hidup Nabi Muhammad saw.
pada 1184 M
Salahuddin megumpulkan ulama untuk mengisahkan kisah Rasulullah dalam sebuah
syair untuk menyemangati Muslim adalah Syaikh Ja'far Al-Barzanji yang akhirnya
terpilih untuk mengisahkannya jadilah
syair "Barzanji" seperti kita kenal sekarang "Barzanji" ini ditulis untuk
meningkatkan kecintaan ummat pada Nabi yang diharapkan akan mencontoh perjuangan
beliau saw alhamdulillah semangat dan persatuan kaum Muslim diawali peringatan
ini lalu Al-Quds dapat dibebaskan pada 1187 M oleh Muslim.
pada masa kini ada
pro-kontra tentang "Maulid Nabi" ini sebagian mengatakan bid'ah
(penyimpangan) sebagian lagi membolehkannya yang menganggapnya penyimpangan
(bid'ah) berdalil bahwa Muslim dilarang
merayakan apapun yang tidak dirayakan Rasulullah sedangkan yang membolehkan
"Maulid Nabi" bersandar pada dalil bahwa Imam Suyuthi dan Ibnu Hajar
membolehkannya
lalu bagaimana
mendudukkan kedua perkara pro-kontra Maulid Nabi ini? kita coba sedikit
mengupasnya. dalam Islam, bid'ah itu sesuatu yang dilarang Rasulullah pelakunya
berada dalam kesesatan, dan kesesatan ada di neraka.
sejauh yang saya
pelajari (semoga Allah maafkan bila tersilap) bid'ah adalah penyimpangan dalam hal ibadah, bukan selain
ibadah contoh bid'ah misalnya menambah shalat subuh dari 2 rakaat menjadi 3
rakaat atau shalat isya dari 4 rakaat jadi 3 rakaat, ini bid'ah namun bila
penyesuaian tatacara (wasilah), maka dalam kajian saya ini bukan bagian bid'ah misalnya
peringatan "Maulid Nabi", maka bid'ah ini hanya berkaitan dengan
ibadah ritual (ibadah mahdhah) saja sedangkan perantaranya (wasilah) tidak
termasuk bid'ah misalnya lagi, dahulu Al-Qur'an di masa Rasul dan sahabat
ditulis di kulit atau tulang masa kini
di laptop dan HP, itu bukan bid'ah
dahulu di masa
Rasulullah pendidikan dilakukan secara tatap muka masa kini bisa dengan online maka sah, tidak
bid'ah maka peringatan "Maulid Nabi" bisa disamakan dengan membaca
Sirah Nabi hanya saja dilakukan secara berjama'ah di peringatan Maulid Nabi
kita diingatkan dengan kisah beliau dalam berjuang semakin mencintai dan
menyayangi beliau saw maka peringatan
"Maulid Nabi" adalah bagian dari Majlis Ta'lim, Majlis Ilmu mendatanginya
insyaAllah mendapat ilmu dan manfaat apalagi "Barzanji"-nya diartikan
dalam bahasa Indonesia, malah lebih bagus lagi
banyak yang tadinya
nggak paham jadi paham kisah Nabi jadi justru "Maulid Nabi" ini harus
jadi momentum persatuan dan pengingat bagaimana perjuangan Nabi untuk Islam dan kita
lalu bagaimana bila ada pendapat lain yang tetap menolak Maulid Nabi?
ya sudahlah,
sama-sama saudara, selama berdalil, legowo aja sesama Muslim itu harus saling
menjaga, saling sayang masak "Maulid Nabi" dijadikan alasan ribut dan
rusuh saudara sendiri? yang punya dalil
ikut Maulid Nabi ya jalan yang yakin Maulid Nabi itu bid'ah ya tinggalkan sesama
Muslim harus saling memahami ingat-ingat bahwa memperingati "Maulid
Nabi" bisa jadi berpahala, bisa jadi tidak tapi rusuh sesama Muslim sudah jelas
menyedihkan jadi clear ya yang penting
woles dan adem sama saudara sendiri
jangan galak, jangan ngamuk yang tau ilmu tentu baik perangainya"
Semoga Bermanfaat ya Sob,
Salam Ukhuwah Fillah
Alfira Khairunnisa



Tidak ada komentar:
Posting Komentar