Kamis, 23 Januari 2014

Ketidakadilan Terhadap Islam dan Umatnya

Asalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh. . 
 
Bismillahirahmanirahim. . 
Sobat muslim muda, gimana kabarnya? semoga kamu tetap beriman, istiqomah bersama ISlam dan senantiasa berada dalam naungan cinta dan kasih sayang-Nya yang hakiki. Aamiin...Aamiin...Allahumma Aamiin...

atas berkat rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kali ini ana dapat memuat sederet kartun yang unik, menarik, dan penuh akan makna.
 
berikut adalah kumpulan dari beberapa cuplikan ilustrasi kartun yang ana kutip dari suatu File FlashPlayer dari sebuah situs di Internet…  

yang Insya Allah  dapat membantu kita untuk melihat, memahami, dan menilai secara obyektif mengenai realita yang terjadi berupa ketidakadilan terhadap Islam dan Umatnya. . . Selamat Membaca  ^_^





















Semoga Bermanfaat ^_^
By: Alfira Khaieunnisa
@AlfiraKhair
 
Ilustrasi Gambar   -  Nayzak.deviantart.com
Narasi              -  Rian Wahyudi
 


Jumat, 17 Januari 2014

Khilafah Will Rise Again

 


سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ أَوَّلاً قُسْطَنْطِينِيَّةُ أَوْ رُومِيَّةُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ

Rasulullah saw. pernah ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul menjawab, “Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel” (HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)
 Imam Ahmad mengeluarkan hadis tersebut di dalam Musnad-nya pada bab Musnad ‘Abdullâh bin Amru bin bin al-‘Âsh. Beliau meriwayatkan hadis ini berdasarkan penuturan secara berturut-turut dari Yahya bin Ishaq, dari Yahya bin Ayyub, dari Abu Qabil; yang didasarkan pada penuturan Abdullah bin Amru bin al-‘Ash dari Rasulullah saw. Al-Haytsami berkomentar, “Para perawi hadis ini sahih kecuali Abu Qabil dan ia tsiqqah.”[1]

Riwayat yang sama juga diriwayatkan oleh: Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf Ibn Abiy Syaybah; Imam ad-Darimi dalam Sunan ad-Dârimî, dari penuturan Utsman bin Muhammad, dari Yahya bin Ishaq; Ibn Abi ‘Ashim dalam Al-Awâ’il li bin Abi ‘Âshim, dari penuturan Abu Bakar, dari Yahya bin Ishaq; Ath-Thabrani dalam Al-Awâ’il li ath-Thabrani, dari penuturan Abdullah bin al-Husain al-Mashishi dari Yahya bin Ishaq; serta Abu ‘Amru ad-Dani dalam as-Sunan al-Wâridah fî al-Fitan, dari penuturan Abdurrahman bin Utsman, dari Qasim, dari Ibn Abi Khaytsamah, dari Yahya bin Ishaq. Dalam semua riwayat tersebut, selanjutnya Yahya bin Ishaq dari jalur yang sama dengan jalur di atas.[2]

Nu’aim bin Hamad al-Muruzi meriwayatkan hadis ini dalam Kitâb al-Fitan dari Ibn Wahbin dari Yahya bin Ayyub dari Abu Qabil dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash.][3] Abdul Ghani al-Maqdisi mengeluarkannya di dalam Kitâb al-‘Ilm. Ia berkata, “Hadis ini sanad-nya hasan.”

Al-Hakim meriwayatkannya dari tiga jalur. Pertama: dari Muhammad bin Shalih bin Hani’, dari Muhammad bin Ismail, dari Ibn Wahbin, dari Yahya bin Ayyub dari Abu Qabil al-Ma’afiri dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash. Kedua: dari Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad al-Baghdadi dari Hasyim bin Murtsid dari Said bin Afir dari Said bin Abi Ayyub dari Abu Qabil dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash. Ketiga: dari Muhammad bin al-Muamal, dari al-Fadhl bin Muhammad asy-Sya’rani dari Nu’aim bin Hamad, dari Abdullah bin Wahbin, dari Yahya bin Ayyub dari Abu Qabil, dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash. Al-Hakim berkomentar, “Ini adalah hadis sahih menurut syarat Syaykhayn (Imam al-Bukhari dan Imam Muslim), tetapi keduanya tidak mengeluarkannya.”[4] Adz-Dzahabi menyepakati penilaian al-Hakim.

Komentar al-Haytsami di atas, bahwa para perawi hadis ini adalah perawi sahih kecuali Abu Qabil yang ia nilai tsiqqah, mengisyaratkan bahwa ia menilai hadis ini hasan. Penilaian ini sesuai dengan penilaian Abdul Ghani al-Maqdisi. Adapun al-Hakim menilainya sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Syaikh Nashiruddin al-Albani juga menilainya sahih.[5] Walhasil hadis ini bisa dijadikan hujjah.

Makna Hadis
Hadis ini adalah hadis gharîb karena hanya diriwayatkan dari jalur Abu Qabil dari Abdullah bin Amru bin al-Ash. Hadis ini memberitahukan bahwa dua kota, yaitu Konstantinopel dan kota Rûmiyah akan ditaklukkan, dan di antara keduanya kota Konstantinopel yang akan ditaklukkan lebih dulu. Kota Rûmiyah itu seperti yang dijelaskan dalam Mu’jam Al-Buldân adalah kota Roma, sekarang adalah ibukota Italia.[6] Penaklukan kedua kota ini adalah sesuatu yang pasti akan terjadi.
Berita gembira penaklukan kota Konstantinopel juga diriwayatkan dalam hadis lain. Berita gembira tersebut memacu kaum Muslim sejak masa para Sahabat untuk mendapatkan keutamaan dan kemuliaan sebagai orang yang berhasil mewujudkannya.
Syaikh al-Albani mengatakan:
Penaklukan pertama telah berhasil direalisasikan melalui tangan Muhammad al-Fâtih al-‘Utsmani seperti yang sudah diketahui. Hal itu terealisasi setelah lebih dari delapan ratus tahun sejak berita gembiranya disampaikan oleh Rasulullah saw. Penaklukan kedua (yaitu penaklukan kota Roma, pen.) dengan izin Allah juga akan terealisasi. Sungguh, beritanya akan Anda ketahui dikemudian hari. Tidak diragukan bahwa realisasi penaklukan kedua itu menuntut kembalinya Khilafah Rasyidah ke tengah-tengah umat Muslim. Hal itu telah diberitakan oleh Rasulullah saw. dalam sabda Beliau.
Berita dari Rasul itu tidak boleh menjadikan kita diam dan tidak turut terlibat aktif memperjuangkannya karena menganggap toh pasti akan tegak kembali. Apalagi menghalangi perjuangan penegakan Khilafah tentu jauh lebih buruk dan lebih tidak layak lagi keluar dari seorang Muslim. Sikap itu hanya layak keluar dari orang yang tidak percaya kepada Rasulullah saw.

Berita gembira tegaknya kembali Khilafah seharusnya memacu kita untuk mewujudkannya tanpa kenal lelah, seperti generasi terdahulu. Perjuangan itu pada akhirnya pasti akan berhasil dan Khilafah pasti tegak kembali sesuai dengan janji Allah dan Rasulullah saw. Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. [Yahya Abdurrahman]
Catatan Kaki
[1] Lihat: Imam Ahmad (164-241 H), Musnad Ahmad, 2/176, Muassasah Qurthubah, Mesir, tt; Al-Haytsami (w. 807 H), Majma’ az-Zawâ’id wa Manba’u al-Fawâ’id, 6/219, Dar ar-rayan li ath-Turats-Dar al-Kitab al-‘Arabi, Kaero-Beirut, 1407

[2] Lihat: Ibn Abiy Syaibah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, ed. Kamal Yusuf al-Hawt, 4/419, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh, cet. i. 1409; Imam ad-Darimi (181-255 H), Sunan ad-Darimi, 1/137, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, cet. i. 1407; Ibn Abiy ‘Ashim, al-Awâ’il li Ibn Abi ‘âshim, 1/109; Ath-Thabrani, al-awâ’il li ath-Thabrani, 1/122; Abu Amru ad-Dani (371-444 H), as-Sunan al-Wâridah fî al-Fitan, ed. Dr. Dhiya’ullah bin Muhammad Idris al-Mubarkfuri, 6/1127, Dar al-‘âshimah, Riyadh, cet. i. 1416

[3] Lihat: Nu’aim bin Hamad al-Muruzi Abu Abdillah (w. 288 H), Kitâb al-Fitan, ed. Samir Amin az-Zuhri, 2/479, Maktabah at-Tawhid, Kaero, cet. i. 1412

[4] Lihat: Al-Hakim (321-405), Mustadrak ‘alâ Shahîhayn, ed. Mushthafa Abdul Qadir ‘Atha, 4/598, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. i. 1411/1990

[5] Lihat: Muhammad Nashiruddin al-Albani, Silsilah ash-Shahîhah, 1/33, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, tt

[6] Lihat: Yaqut bin Abdillah al-Humawi, Mu’jam al-Buldân, 1/312, Dar al-Fikr, Beirut, tt
Diambil dari http://www.hizbut-tahrir.or.id

Mari Saling Berbagi Ilmu
Alfira Khairunnisa

MENANTI DALAM TAAT




 Bismillahirrahmanirrahim

      Saudara, saudariku yang dirahmati Allah, kita bersua kembali dalam tema yang berbeda, saat menuliskan ini, sabtu 18 Januari ana belum menikah, belum memiliki pendamping hidup, tetapi alhamdulillah sudah memiliki calon pendamping yang insha Allah terbaik menurut Allah. Mohon doanya agar semua diberi kelancaran dan kemudahan menuju ikatan suci pernikahan. 


tapi apakah kau tau sahabat, ditengah hiruk pikuk kehidupan, ada orang-orang yang di tengah keramaian, justru merasakan kesepian. Mereka adalah orang-orang yang siang dan malamnya tercipta atas harapan-harapan kehangatan sanubari,yang tak kunjung terisi. Mereka yang dalam setiap sujud dan doa, menengadahkan tangan, dengan hati tertunduk malu, berbisik pada Illahi Rabbi, 

“Ya Rabb.. sesungguhnya Engkau Maha Tahu, betapa besar rasa rinduku, atas sosok pendamping pilihan-Mu..” 



Mereka adalah orang-orang yang sangat pandai menyembunyikan betapa besar rasa ingin menikahnya, dalam ketaatan yang luar biasa. Meski kerinduan akan pendamping hidup semakin besar, mereka tak sibuk mencari-cari, melainkan sibuk tingkatkan kualitas diri, dan senantiasa mendekat pada Illahi Rabbi. Terkadang sesak di dada menyeruak sebab keinginan hati yang semakin mendalam. Dan bisa bertambah dahsyat saat tak sengaja memperhatikan kemesraan pasangan yang sudah halal. Betapa indah rengkuhan lengan suami, betapa manis godaan bercanda sang istri, dan betapa syahdu jari jemari yang saling bertaut satu sama lain dalam balutan cinta halal yang menggugurkan dosa. Subhanallah, bulir-bulir airmatabisa mengalir sebab kerinduan yang luar biasa.

Bukan sebab tak berusaha, tapi memang hanya belum dipertemukan oleh-Nya. Jalan ikhtiar ditempuh sesuai dengan ridho-Nya, tapi ada saja hambatan yang menerjang kelancaran proses menuju hari bahagia yang dinantikan. Subhanallah, Allah sedang mempersiapkan kisah mengejutkan di depan sana. Kisah yang sangat indah dan sudah pasti terbaik. Allah adalah sutradara terhebat. Tak satupun mampu menebak alur kehidupan manusia yang sedang dirancang-Nya. Dan alur kehidupan yang Dia berikan untuk hamba-Nya, sudah pasti sesuai dengan kebutuhanhamba-Nya, indah dan terbaik. Siapa yang bisa meragukan skenario Allah?

Ya, manusiawi.. resah hati mungkin akan terus menyelimuti. Apalagi bagi yang sudah paham bahwa menikah adalah ibadah yang patut disegerakan, bagi yang sudah siap. Tapi sungguh, bersyukurlah akan nikmat penantian itu, sebab tak semua orang dianugerahi rasa kerinduan akan pasangan hidup. Masih banyak orang diluar sana yang dirinya disibukkan untuk mengejar karir, harta, atau popularitas, hingga tiba suatu masa mereka baru menyadari sudah terlampau jauh langkahnya, sedangkan usia telah menuai senja. Tak ada teman berbagi menjelang hari tua, menggapai kebarakahan hidup bersama. Maka bersyukurlah yang sudahdiizinkan Allah merasakan kerinduan akan pasangan, bukan sekedar sebagaipengejawantahan syahwat, melainkan karena ingin bersegera memuliakan diri.


Rasa ingin bersegera memperoleh pendamping pada masa-masa sendiri ini, bisa jadi Allah berikan sebagai ujian. Sejauh mana kita mampu untuk tetap mempertahankan kecintaan kita pada-Nya meski kita sedang melakukan pencarian cinta manusia. Sekuat apa kita bertahan dalam ikhtiar melalui jalan yang diridhoi-Nya saat Allah coba jatuhkan berulang kali. Dan yang paling penting,selurus apa niatan kita menikah. Allah persulit bukan karena tak sayang pada diri yang sudah menanti-nanti, melainkan Ia hanya ingin persiapkan kita mental yang lebih kuat dan niat yang lebih istiqomah. Berbaik sangkalah pada-Nya, tak mungkin Allah hadirkan rintangan tanpa maksud. Dan bukankah sebuah perjuangan terasa lebih indah saat mampu melewati hal yang sulit. Begitu pun penantian, iamerupakan sebuah perjuangan yang sangat hebat.

Hari demi hari, gunakan untuk mentafakkuri, meluruskan segala niat dalam hati,hanya untuk Allah dan karena Allah. Meski gelisah melanda setiap waktu, tapi beruntung.. sabar dan berserah kepada Allah mampu menenggelamkan ego. Anugerahyang amat patut disyukuri. Tak usah risaukan hasil akhir, sebab itu hak prerogatif Allah. Tugas kita cukup pastikan ikhtiar penantiannya senantiasa lurus sesuai yang Allah ridhoi. Yakin.. Allah Maha Tahu, kapan waktu yang terbaik menurut-Nya untuk saling dipertemukan, dan siapa pasangan yang paling tepat disandingkan dengan kita, menurut-Nya.

“Segala resah, insya Allah menuai berkah, hingga tiba hari yg indah. Berserahlah pada Allah, memohon ridho bagi hamba-hamba-Nya yang menanti dalam taat.” 


Semoga Hangat silaturahim,
Alfira Khairunnisa