Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu'alaikum, sahabat fillah...
temanya sangat menarik nih,
Kisah
Yahudi Menangis Saat Perpisahan Dengan Tentara Muslim
Aneh. . Mereka menangis?
Ya, mereka menangisi kepergian orang-orang yang sebelumnya datang sebagai musuh dan mengalahkan negerinya. Bulir-bulir air mata jatuh menyentuh tanah kelahiran yang kini mulai berubah. Tidak semuanya menangis, memang. Namun rona kesedihan menjadi wajah negeri Hims pada hari itu.
Ya, mereka menangisi kepergian orang-orang yang sebelumnya datang sebagai musuh dan mengalahkan negerinya. Bulir-bulir air mata jatuh menyentuh tanah kelahiran yang kini mulai berubah. Tidak semuanya menangis, memang. Namun rona kesedihan menjadi wajah negeri Hims pada hari itu.
Sebelumnya, Hims berada di bawah
kekuasaan Romawi. Penduduknya mayoritas beragama Nasrani dan Yahudi. Sampai
Islam mengalahkan militer negeri itu, justru ketika mereka mengejar kaum
muslimin. Militer itu mungkin terlalu berambisi untuk mengalahkan kaum
muslimin. Mereka tidak sadar akan kecerdasan Khalid bin Walid yang telah
merancang strategi jitu, sebagaimana mereka tidak juga sadar akan keberanian
kaum muslimin menyongsong kematian.
Setelah militer Hims kalah, kaum
muslimin memasuki negeri itu untuk menggantikan tirani Romawi. Kesepakatan yang
disepakati kedua belah pihak, setiap penduduk Hims membayar jizyah 1 dinar
dengan jaminan keselamatan dan keamanan mereka.
Waktu bergulir begitu cepat bersama
berubahnya hati manusia. Hims merasakan cinta kaum muslimin kepada mereka.
Mereka menikmati kebaikan, keadilan, perlindungan, dan kedamaian dari tentara
Muslim di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid. Maka, tahun 13 H
atau 636 M itu menjadi saksi tetesan air mata saat tentara muslim berpamitan
kepada mereka menuju Yarmuk. “Kami telah melupakan kemenangan kalian dan
mempertahankan kalian,” kata Abu Ubaidah dalam sambutan perpisahannya, “karena
itu kini kalian bebas menjalani urusan kalian masing-masing.” Kata-kata
pengundang air mata itu mengiringi sikap yang tidak pernah dilupakan Hims. Kaum
muslimin mengembalikan semua jizyah penduduk Hims.
Mata yang berkaca-kaca kini berlinang air
mata. Tetesannya menjadi saksi keharuman cinta kaum muslimin. Agha Ibrahim
Akram mencatat perkataan sebagian Yahudi Hims dalam buku Khalid bin Walid, The
Sword of Allah : “Sungguh, pemerintahan dan keadilan kalian lebih kami senangi
dari kezaliman yang dahulu kami rasakan.” Mereka juga berjanji takkan
mengundang Romawi ke negeri itu. Namun yang lebih menggembirakan, kebaikan kaum
muslimin itu membuat penduduk Hims berbondong-bondong memeluk Islam di belakang
hari. Hidayah Allah turun membersamai cinta kaum muslimin yang dihadiahkan pada
mereka.
Jihad Perang di dalam Islam memang
bukan untuk motif ekonomi. Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan panjang lebar dalam
Fiqih Jihad bahwa perang seperti itu dilarang dalam Islam. Demikian pula jihad
perang bukan dimaksudkan untuk memaksa manusia masuk Islam. Bukan pula untuk
melenyapkan seluruh kekufuran di penjuru dunia. Barangkali sebagian kita
terkejur dengan larangan terakhir ini. Namun Dr. Yusuf Qardhawi telah mengambil
kesimpulan ini dari dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah.
Tujuan jihad perang yang dibenarkan
dalam Islam adalah untuk melawan agresi musuh, mencegah terjadinya fitnah atau
menjaga stabilisasi kebebasan dakwah, menyelamatkan orang-orang yang tertindas,
dan memberi pelajaran kepada orang-orang yang mengingkari perjanjian.
Selebihnya, ketika jihad perang selesai, biarlah orang-orang kafir berinteraksi
dengan Islam, menerima dakwahnya, memahami hakikatnya, merasakan kebaikannya,
dan membandingkannya dengan keyakinan lama mereka. Allah yang kuasa untuk
menganugerahkan hidayah-Nya. Dan hidayah itu turun, biasanya membersamai cinta.
Jihad dalam bentuknya yang lain juga
demikian. Jihad siyasi, misalnya. Ia tidak bertujuan meraih kekuasaan, seperti
banyak dituduhkan oleh orang-orang yang belum memahami Islam dan dakwahnya.
Kekuasaan hanyalah sasaran antara. Hanya anak tangga. Agar Islam bisa mengatur
negeri dengan keadilannya. Agar Islam menampakkan keseluruhan wajahnya; yang
indah dan mempesona. Agar kaum muslimin bisa menghadirkan cinta, tanpa
dihalangi oleh tirani penguasa. Lalu biarlah… dengan cinta yang telah
diterimanya umat memilih. Berbondong-bondong menyempurnakan agamanya. Sebab
hidayah itu kuasa Allah Azza wa Jalla.
Apabila telah datang pertolongan Allah
dan kemenangan,
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (QS. An-Nashr: 1-3)
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (QS. An-Nashr: 1-3)
Wallaahu a’lam bish shawab.
dikutip dari website : Keluarga Pelajar Islam Indonesia - Komunitas Pelajar Islam Sydney (http://kpii.org)
dikutip dari website : Keluarga Pelajar Islam Indonesia - Komunitas Pelajar Islam Sydney (http://kpii.org)
@alfirakhair

Tidak ada komentar:
Posting Komentar