Jumat, 11 April 2014

UNDANGAN WALIMATUL 'URSY ALFIRA KHAIRUNNISA & MUHAMMAD GHAZI AL-FATIH


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan penuh rasa syukur dan ketundukan kepada Allah SWT Serta mengharap rahmat dan ridho kasih sayang-Nya. kami bermaksud mengundang ikhwafillah dan mohon do'a restu atas walimatul 'ursy kami Alfira Khairunnisa & Muhammad Ghazi Al-Fatih (Sartika Saragih & Maskuri Aditiya)

Yang akan dilaksanakan pada:

Hari/Tgl           : Senin, 14 April 2014

Tempat            : Pematang Kerasaan, Kec. Bandar Kab. Simalungun Prop. Sumut

Ya Allah,
Cukupkanlah permohonan kami dengan ridlo-Mu
Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat,
Saling menjaga kehormatan dikala jauh,
Saling menghibur dikala duka,
Saling mengingatkan dikala bahagia,
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan,
Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.

Ya Allah,
Sempurnakanlah kebahagiaan kami
Dengan menjadikan perkawinan kami ini sebagai ibadah kepada-Mu
Dan bukti ketaatan kami kepada sunnah Rasul-Mu.

Amin Allahumma Amiin……

Ya Allah…
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru [di jalan]-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertalian kami dalam ikatan suci pernikahan.

Ya Allah…
Abadikan kasih sayang kami, tunjukkanlah jalan kami dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dada kami dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Mudammad SAW, kepada keluarganya dan kepada semua sahabatnya.



Ya Allah… pada Hari Senin, 14 April 2014
dua hamba-Mu yang dhaif mematri janji dalam Mitsaqan Ghaliza di hadapan kebesaran-Mu. Kami tahu tidak mudah untuk memelihara ikatan suci ini dalam naungan ridha dan maghfirah-Mu. Kami tahu, amat berat bagi kami untuk mengayuh perahu rumah tangga kami menghadapi taufan godaan di hadapan kami. Karena itulah, kami datang memohon rahman dan rahim-Mu.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang lebih Engkau anugerahi kenikmatan, bukan-nya jalan orang-orang yang Engkau timpai kemurkaan, bukan pula jalan orang-orang yang Engkau tenggelam dalam kesesatan. Sinarilah hati kami dengan cahaya petunjuk-Mu.

Terangilah jalan kami dengan sinar taufik-Mu. Kalau Engkau berkenan menganugerahkan nikmat-Mu atas kami, bantulah kami untuk banyak berdzikir dan bersyukur atas nikmat-Mu itu. Hindari kami dari orang-orang yang terlena dalam kemewahan dunia. Lembutkan hati kami untuk merasakan curahan rahmat-Mu.

Ya Allah…
Indahkanlah rumah kami dengan kalimat-kalimat-Mu yang suci. Suburkanlah kami dengan keturunan yang membesarkan asma-Mu. Penuhi kami dengan amal shaleh yang Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa…Allah teladan yang baik bagi manusia.

Ya Allah…
Damaikanlah pertengkaran di antara kami, pertautkan hati kami, dan tunjukkan kepada kami jalan-jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkan kami dari kejelekan yang tampak dan tersembunyi.

Ya Allah…
Berkatilah pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, suami/isteri kami, keturunan kami dan ampunilah kami.

Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Amin Allahumma Amiin……


Senin, 07 April 2014

JKN Pemalakan Berkedok Jaminan Kesehatan Masyarakat

Bismillahirrhmanirrahim

Masalah JKN menurut saya itu sudah jelas-jelas pemalakan berkedok jaminan kesehatan masyarakat. Kenapa saya katakan pemalakan?

Ada 4 hal yang perlu kita kritisi terkait JKN. Pertama, konsep JKN adalah rusak dan menyesatkan. Seperti halnya kapitalisasi di bidang pendidikan, kalau kita ga sadar betul, kita akan merasa kalau pemerintah sangat sangat peduli sama rakyatnya. Misal, 20% mahasiswa diberi beasiswa bidik misi, kesempatan melanjutkan S2 dengan beasiswa BPPDN. Dengan begitu rakyat akan bersimpati pada pemerintah.

Kita harus kembali pada pemikran dasar bahwa pendidikan adalah hak bagi warga negara. Pemerintah berkewajiban memenuhi hak rakyat tersebut bahkan menggratiskan. Tidak perlu dikompetisikan 20% untuk orang-orang pintar dan miskin saja. Jika kita memahami, banyak sekali tambang-tambang milik rakyat Indonesia yang ternyata diserahkan kepada asing. Jangan sampai pada kasus JKN yang nyawanya adalah kapitalisasi kesehatan, kita merasa pemerintah sudah sangat baik luar biasa ketika kesehatan 1/3 rakyat dijamin oleh pemerintah.

Seharusnya alur berfikir kita adalah kesehatan menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya bukan betanggung jawab pada 1/3 masyarakat saja. Jaminan kesehatan yang diberikan pemerintah bukannya gratis melainkan berbayat misalnya perbulannya kita harus mengeluarkan uang sebesar 50rb untuk pembayaran JKN.

Itu jika kita memakai system Demokrasi, berbeda jika system yang kita pakai adalah Islam atau sering disebut dengan system Khilafah yaitu system kepemerintahan yang berdasarkan dengan syari’at islam.

Nabi SAW bersabda: “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi, penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.” [Bukhari & Muslim]

Terkait pelayanan kesehatan, dalam Negara islam atau dalam system khilafah Imam atau kholifah bertanggung jawab untuk mengelola urusan-urusan rakyat. Salah satu kebutuhan dasar adalah bahwa Khilafah harus menyediakan layanan kesehatan. Ketika Rasulullah SAW sebagai kepala negara di Madinah diberikan seorang dokter sebagai hadiah, ia tugaskan dokter tersebut ke umat Islam.

 Kenyataan bahwa Rasulullah SAW menerima hadiah dan dia tidak menggunakannya, bahkan dia menugaskan dokter itu kepada kaum muslimin, dan hal ini adalah bukti bahwa kesehatan adalah salah satu kepentingan umat Islam.

Karena negara berkewajiban untuk membelanjakan anggaran negara pada penyediaan sistem kesehatan gratis untuk semua orang, maka Baitul-Mal harus menyusun anggaran untuk kesehatan. Jika dana yang tersedia tidak mencukupi maka pajak kekayaan akan dikenakan pada umat Islam untuk memenuhi defisit anggaran.

Berbeda dengan sistem kapitalis, sistem Islam memandang penyediaan kesehatan kepada warga negaranya dari perspektif manusia dan bukan aspek ekonomi. Ini berarti bahwa pemimpin Negara Islam terlihat untuk menyediakan sarana kesehatan yang memadai dan berkualitas baik kepada rakyat, bukan demi memiliki tenaga kerja yang sehat yang dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian tetapi demi memenuhi tugasnya mengurus kebutuhan orang-orang dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Silahkan Share
Semoga bermanfaat.

@alfirakhair

 


Minggu, 06 April 2014

Virus Wahn Yang Diramalkan Baginda Rasulullah

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Dari sahabat Tsauban r.hu berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw,

"Hampir saja bangsa-bangsa berkumpul menyerang kalian sebagaimana mereka berkumpul untuk menyantap makanan di nampan. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih, buih di atas lautan. Sungguh Allah benar-benar akan mencabut rasa takut pada hati musuh kalian dan sungguh Allah benar-benar akan menghujamkan pada hati kalian rasa wahn.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta kepada dunia dan takut mati”.

Hadis ini menggambarkan ramalan Rasulullah saw bahwa nanti pada suatu saat umat Islam akan terjangkiti suatu virus yang sangat berbahaya. Virus ini pula yang menjadi penyebab umat islam menjadi bulan-bulanan umat lain. Di mana kehidupan kaum muslimin saat itu sangat jauh dari nilai-nilai yang telah digariskan oleh Allah dan rasul-Nya. Dari hadits di atas tergambar bahwa tidak ada seorang pun sahabat yang menyangkal apa yang dikatakan Rasulullah saw. Mereka justru menanyakan lebih lanjut perihal kondisi umat Islam yang pada suatu masa, mereka tidak lagi dipandang, tetapi menjadi obyek pelecehan dan tindak kebrutalan. Bukan karena jumlah umat Islam yang sedikit, Virus atau penyakit yang bernama al-Wahn-lah penyebabnya. Yaitu kecintaan pada dunia secara berlebih dan takut akan kematian.

Pemahaman Hadis
Kaghusāis sail. Artinya, seperti buih di atas laut.
Jumlah umat islam yang kini mencapai kurang lebih 2 milyar dari penduduk bumi ternyata tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi gelombang serangan yang dilancarkan oleh para musuh islam. Baik serangan itu berupa Cara Berpikir, Budaya, Informasi dan lain sebagainya. Bahkan umat islam dijadikan sasaran pangsa pasar yang empuk. Produk-pruduk yang mereka ciptakan baik berupa teknologi maupun peralatan-peralatan hidup membanjiri pasar kaum msulimin. Akibatnya kaukm muslimin tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menjadi umat yang konsumtif. Itu baru dalam satu bidang. Belum lagi uapaya mereka meracuni Cara Berpikir kaum muslimin agar semakin jauh dari nilai-nilai yang telah Alah dan rasul-Nya gariskan.
Dan bukankah gambaran Nabi saw dalam hadis di atas , bahwa posisi kaum muslimin bagai buih di lautan yang terombang-ambing oleh besarnya ombak laut telah menjadi kenyataan saat ini? Belum jelaskah peringatan insan termulia tersebut sehingga kita masih tidur pulas di tengah besarnya gelombang ombak yang terus menghantam kita sebagai umat islam?

Wala yanzaannaallah. Artinya, sungguh Allah akan mencabut.
Ketika kaum muslimin telah jauh dari nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Dan mereka begitu cintanya kepada dunia. Maka Allah akan mencabut rasa takut dari para musuh Islam. Kaum muslimin tidak lagi memiliki Haibah (harga diri). Kita bisa melihat sepak terjang para musuh Islam yang dengan entengnya sering mempermainkan kaum muslimin, seperti tuduhan Islam adalah agama teroris, penyerangan atas negara-negara Islam timur tengah. Kita menyaksikan saudara kita kaum muslimin di antaranya semenanjung Balkan –negeri yang pernah hidup sejahtera selama lebih dari 300 tahun– hingga kini belum lepas dari penderitaan akibat kekejaman pasukan Serbia. Peristiwa yang kurang lebih sama terjadi pula atas kaum muslimin di Chechnya, negara bagian Rusia.

Belum lagi kita berbicara tentang keadaan saudara-saudara kita se-iman lain di Jammu Kashmir, Pattani - Muang Thai, Moro - Philipina, dan perang saudara yang tidak kunjung usai di Afghanistan; juga keadaan kita - kaum muslimin di tanah air -yang masih dihimpit persoalan kemiskinan, kebodohan, penggusuran, ketimpangan sosial, ketidakadilan, krisis akhlak, kerusakan moral, pornografi dan sebagainya, makin menegaskan, umat Islam dalam keadaan amat mundur, tidak seperti yang diisyaratkan Allah dalam al-qur’an sebagai umat terbaik. Benarlah sinyalemaen dari Rasulullah saw 15 abad yang lalu bahwa pada suatu masa umat Islam yang jumlahnya lebih kurang dari 1,5 milyar dicabik-cabik bagai makanan oleh orang-orang rakus tanpa rasa takut. Dan umat tidak bisa berbuat apa-apa atas keadaan yang menimpanya.

al-Wahn. Artinya, Cinta dunia dan takut mati.
Cinta dunia atau hubuddunya adalah cinta berlebih kepada dunia. Cintanya pada dunia melupakan dirinya sebagai hamba Allah swt. Akibatnya larangan-larangan Allah swt tidak ladi diperhatikan. Tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme adalah contoh dari hubuddunya. Rasulullah saw dalam hadis lain mengatakan bahwa cinta dunia adalah sumber dari segala kesalahan. Sedangkan Utsman bin Affan mengatakan, ”Menggandrungi dunia itu kegelapan hati dan menggandrungi akhirat adalah cahaya hati.” Orang yang telah terjangkiti penyakit ini akan melakukan apa saja demi mencapai keinginannya mendapatkan harta, jabatan, kekuasaan dan segala hal yang berhubungan dengan kenikmatan dunia.

Lalu apakah dinul Islam melarang para pemeluknya untuk menjadi orang kaya? Sama sekali tidak. Islam mengajarkan kepada para pemeluknya untuk zuhud terhadap dunia. Dan ingat zuhud bukan berarti antipati terhadap dunia. Sebaliknya menempatkan dunia pada tempatnya. Dunia tidak sampai mengganggu dirinya dalam pengabdian kepada Allah swt. Orang yang zuhud tidak memandang segala hal berdsarkan materi. Sifat zuhud inilah yang sekarang telah luntur dari kaum muslimin di mana mereka selalu menilai segalanya berdasar pada materi. Sahabat-sahabat Nabi saw pun banyak yang menjadi saudagar-saudagar kaya. Tetapi kekayaan yang mereka miliki tidak dijadikan sebagai pemuas hawa nafsu sebalilknya menggunakan harta yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka sebagai sarana untuk ber-taqarrub kepada Allah. Dan saking hati-hatinya para sahabat Nabi saw terhadap kenikmatan dunia sampai sahabat Abu Bakar r.hu berdoa kepada Allah swt, “Ya Allah jadikanlah dunia ini ada di tangan kami dan bukan di hati kami.”

Karahiyatul maut atau takut mati merupakan buah dari sifat hubuddunya. Di mana kecintaan yang berlebih terhadap dunia membuat seseorang takut berpisah dari kehidupan dunia atau bahkan melupakan kematian yang merukan suatu kepastian dari Allah swt. Hal ini telah difirmakan oleh-Nya dalam alqur’an, ”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” ( Qs.al-Imran [3] : 185).
Maka memahami makna hidup di dunia dan kematian sangatlah penting bagi seorang muslim-mukmin untuk terhindar dari virus al-Wahn tersebut.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Buang- jauh-jauh sifat hubuddunya dan takut mati.
2. Pahami dengan baik dan benar makna kehidupan dan kematian.
3. Mari bangkit menjadi umat terbaik yang berjalan di bawah koridor Neraca Syari’at.

Oase Pencerahan
Tidak dijadikannya dinul Islam sebgai way of life dalam berbagai segi kehidupan merupakan faktor utama kemunduran Umat islam dewasa ini. Umat telah kehilangan kemuliaannya. Seharusnya umat Islam bisa tampil mangatur kehidupan manusia di dunia secara keseluruhan bukan yang diatur; tampil memimpin bukan yang dipimpin. Seharusnya umat Islam menguasai bukannya malah dikuasai. Secara faktual, potensi 1,2 milyar umat Islam demikian besar. Tetapi kenyataannya umat sebanyak itu berserak seperti buih, lemah tak bertenaga. Sumber daya alam yang ada juga tidak bermanfaat banyak demi kemajuan Islam. Umat tetap terbelakang, tercabik-cabik dan menjadi bulan-bulanan negara-negara besar seperti yang sekarang ini tengah terjadi. Apa yang bisa diperbuat untuk saudara kita di Palestina, Chechnya dan Bosnia? Demikian sulitnyakah mengusir Israel yang berpenduduk hanya sekitar 7 juta dari bumi Palestina? Bagaimana mungkin, umat yang jumlahnya semilyar lebih keok melawan negeri yang berpenduduk lebih sedikit dari kota Jakarta.

Tapi kalau kita renungkan secara mendalam, nasib buruk ini ternyata lebih karena keteledoran umat Islam sendiri; bukan karena musuh Islam. Umat Islam harus menyadari bahwa rumah mereka sendirilah dalam keadaan lemah, tak terpelihara kesehatannya, sehingga tatkala penyakit datang mudah sekali ia berkembang dan membikin lumpuh tubuh yang seharusnya kuat itu. Kita hanya dibuat sibuk dengan masalah-masalah yang sepele, tentang rokok, shalat subuh pakai qunut atau tidak, beduk dan masalah-masalah khilafiah lainnya. Betapa menyedihkannya jika hal-hal sepele seperti itu harus mengorbankan persaudaran tanpa tepi sebgai sesama kaum muslimin-mukmin. Tentu para Zionis dan musuh-musuh islam akan tertawa lebar melihat keadaan kita yang demikan itu. Sebab harapan mereka untuk memecah-belah kaum muslimin dari dalam berhasil. Jika sudah begitu siapa yang dirugikan?

Maka setelah mengetahui hadis ini. Kita rapatkan shaf-shaf persaudaraan kita guna menuju kebangkitan Islam. Mari kita buktikan kepada dunia bahwa umat Islam masih mampu bangkit dari keterpurukkannya. Kita buktikan bahwa Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Kita buktikan bahwa Islam adalah peradaban maju yang siap mengadopsi semua sarana kemajuan teknologi jaman digit ini. Kita buktikan kepada Iblis dan tentaranya bahwa mereka hanya bisa menggoda sebagian orang yang dalam Islam memang menjadi sampah dan kendala kemajuan diberikan rahmat oleh Allah. Islam adalah rahmat Allah. Hanya orang yang tidak mengaku Islam yang masih menjadi teman setan. Orang muslim-mukmin sepatutnya tidak lagi mengidap penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Wa-allahu ’alam.

Sang Pengemban Dakwah Dokternya Ummat

Sahabat yang dirahmati Allah, kenapa saya katakan pengemban dakwah adalah dokternya ummat? ya memang sudah jelas ummat membutuhkan seseorang yang dapat mengobati hatinya. ummat sekarang banyak yang terinvekasi penyakit hati. dari keterlenaan hidup di dunia. ummat yang lebih mementingkan dunia daripada akhirat. ummat yang sangat tergila-gila dan terlena dengan kenikmatan hidup dunia.

Dari sahabat Tsauban r.hu berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw,

"Hampir saja bangsa-bangsa berkumpul menyerang kalian sebagaimana mereka berkumpul untuk menyantap makanan di nampan. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih, buih di atas lautan. Sungguh Allah benar-benar akan mencabut rasa takut pada hati musuh kalian dan sungguh Allah benar-benar akan menghujamkan pada hati kalian rasa wahn.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta kepada dunia dan takut mati”.
 
Pengemban dakwah itu dokternya ummat. Dokter bukan hanya pandai menganalisa. Dokter bukan hanya tahu apa obat yang ampuh. Tapi dokter harus bergerak, action. Obat itu harus diupayakan sekuat tenaga agar dipakai masyarakat. kadang memang pahit obat itu. Tp begitulah obat, suka tidak suka harus ditelan. Dan syariat Islam adalah obat paling ampuh bagi penyakit masyarakat saat ini...!!

JADILAH PENGEMBAN DAKWAH, KOBARKAN SEMANGAT PERJUANGAN

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..,

Sapa sayangku untukmu para pengemban dakwah,

Dakwah???


Ya, sudah saatnya kita menjadi sang pengemban dakwah. Dunia menantikan kita. Perubahan sekarang ada digenggaman tangan kita. Tinggal kita pilih, apa kita mau berjuang dan mati di jalan Allah atau tidak. Kalo kita memilih berdakwah dan berjuang di jalan-Nya maka Insya Allah surga akan menanti. Dan jika kita beralih untuk tidak berdakwah, maka kesempatan kita mendapatkan surga akan hilang sia-sia.

Bagi para pengemban dakwah sekalian, ada 11 nasehat yang disampaikan oleh Syekh Taqiyuddin An-Nabhani. Salah satunya adalah para pengemban dakwah harus menunaikan kewajibannya sebagai sesuatu yang dibebankan Allah dipundak mereka. Hendaknya mereka melakukannya dengan gembira dan mengharapkan ridha Allah.

maka janganlah kita sia-siakan amalan dakwah kita di mata Allah. Janganlah kita sekali-kali punya niatan berdakwah dan berjuang di jalan Allah hanya sekedar untuk pamer doang. Atau kita ingin dilihat oleh orang lain. Bukan itu tujuan kita. Jika hanya itu tujuan kita, sayang banget kan. Gak ada nilainya usaha kita setiap hari mengingatkan orang lain dari maksiat atau ikut serta dalam harokah dakwah. Itu semua sia-sia aja di mata Allah jika kita niatnya tidak karena ingin mendapatkan ridha-Nya.

Jangan menjadi kisah seorang pembaca qur’an, dermawan, dan syuhada yang semua amalnya di tolak oleh Allah SWT. Sebab apa? karna mereka beramal tidak karena Allah, tetapi karna hawa nafsu mereka semata. Rasulullah SAW pernah bersabda :
"Barang siapa memberi petunjuk kebaikan, maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang diterima oleh orang yang mengikuti, dan tidak berkurang sedikit pun hal itu dari ganjaran orang tersebut." (HR. Muslim)

maka Katakanlah, akulah seorang pengemban dakwah. Perjuanganku kulakukan hanyalah untuk Allah semata. Dan aku yakin bahwa janjiMu berupa surga dn pasti akan terwujud. Dan aku yakin aku akan meraihnya. Semoga kita menjadi para pengemban dakwah yang berjuang hingga syahid di jalan-Nya. Amin. allahu akbar !!

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani

Seruan Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani kepada kaum muslim:

"Wahai kaum muslimin,
Kalian saat ini berada di antara dua pilihan. Apakah (kalian) diam dan rela, dengan konsekuensi jatuh, hancur, dan hilangnya agama, lalu kekuasaan ini jatuh di tangan orang-orang kafir; ataukah (kalian) bangkit dan merebut dari tangan para penguasa dan bekerja untuk mngembalikan hukum Allah dengan menegakkan kekhilafahan, dengan konsekuensi kita kembali menjadi umat yang agung serta negara yang besar.

Ingatlah, betapa singkat dan cepat waktu yang ada. Dan sesungguhnya kaki tangan dan pengekor orang-orang kafir sama sekali tidak akan toleran pada kalian dengan bertambahnya penantian kalian.

Maka bersegeralah kalian untuk mengubah. Tegakkanlah daulah khilafah yang menerapkan Islam di dalam negeri dan mengemban Islam dengan jihad keluar negeri-negeri kafir."

[Haditsu ash-Shiyam]


@alfirakhair

Selasa, 11 Februari 2014

Kisah Yahudi Menangis Saat Perpisahan Dengan Tentara Muslim


Bismillahirrahmanirrahim...


Assalamu'alaikum, sahabat fillah...
temanya sangat menarik nih, 


Kisah Yahudi Menangis Saat Perpisahan Dengan Tentara Muslim 



Aneh. . Mereka menangis?
Ya, mereka menangisi kepergian orang-orang yang sebelumnya datang sebagai musuh dan mengalahkan negerinya. Bulir-bulir air mata jatuh menyentuh tanah kelahiran yang kini mulai berubah. Tidak semuanya menangis, memang. Namun rona kesedihan menjadi wajah negeri Hims pada hari itu.

Sebelumnya, Hims berada di bawah kekuasaan Romawi. Penduduknya mayoritas beragama Nasrani dan Yahudi. Sampai Islam mengalahkan militer negeri itu, justru ketika mereka mengejar kaum muslimin. Militer itu mungkin terlalu berambisi untuk mengalahkan kaum muslimin. Mereka tidak sadar akan kecerdasan Khalid bin Walid yang telah merancang strategi jitu, sebagaimana mereka tidak juga sadar akan keberanian kaum muslimin menyongsong kematian.

Setelah militer Hims kalah, kaum muslimin memasuki negeri itu untuk menggantikan tirani Romawi. Kesepakatan yang disepakati kedua belah pihak, setiap penduduk Hims membayar jizyah 1 dinar dengan jaminan keselamatan dan keamanan mereka.

Waktu bergulir begitu cepat bersama berubahnya hati manusia. Hims merasakan cinta kaum muslimin kepada mereka. Mereka menikmati kebaikan, keadilan, perlindungan, dan kedamaian dari tentara Muslim di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid. Maka, tahun 13 H atau 636 M itu menjadi saksi tetesan air mata saat tentara muslim berpamitan kepada mereka menuju Yarmuk. “Kami telah melupakan kemenangan kalian dan mempertahankan kalian,” kata Abu Ubaidah dalam sambutan perpisahannya, “karena itu kini kalian bebas menjalani urusan kalian masing-masing.” Kata-kata pengundang air mata itu mengiringi sikap yang tidak pernah dilupakan Hims. Kaum muslimin mengembalikan semua jizyah penduduk Hims.
 Mata yang berkaca-kaca kini berlinang air mata. Tetesannya menjadi saksi keharuman cinta kaum muslimin. Agha Ibrahim Akram mencatat perkataan sebagian Yahudi Hims dalam buku Khalid bin Walid, The Sword of Allah : “Sungguh, pemerintahan dan keadilan kalian lebih kami senangi dari kezaliman yang dahulu kami rasakan.” Mereka juga berjanji takkan mengundang Romawi ke negeri itu. Namun yang lebih menggembirakan, kebaikan kaum muslimin itu membuat penduduk Hims berbondong-bondong memeluk Islam di belakang hari. Hidayah Allah turun membersamai cinta kaum muslimin yang dihadiahkan pada mereka.
Jihad Perang di dalam Islam memang bukan untuk motif ekonomi. Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan panjang lebar dalam Fiqih Jihad bahwa perang seperti itu dilarang dalam Islam. Demikian pula jihad perang bukan dimaksudkan untuk memaksa manusia masuk Islam. Bukan pula untuk melenyapkan seluruh kekufuran di penjuru dunia. Barangkali sebagian kita terkejur dengan larangan terakhir ini. Namun Dr. Yusuf Qardhawi telah mengambil kesimpulan ini dari dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah.

Tujuan jihad perang yang dibenarkan dalam Islam adalah untuk melawan agresi musuh, mencegah terjadinya fitnah atau menjaga stabilisasi kebebasan dakwah, menyelamatkan orang-orang yang tertindas, dan memberi pelajaran kepada orang-orang yang mengingkari perjanjian. Selebihnya, ketika jihad perang selesai, biarlah orang-orang kafir berinteraksi dengan Islam, menerima dakwahnya, memahami hakikatnya, merasakan kebaikannya, dan membandingkannya dengan keyakinan lama mereka. Allah yang kuasa untuk menganugerahkan hidayah-Nya. Dan hidayah itu turun, biasanya membersamai cinta.

Jihad dalam bentuknya yang lain juga demikian. Jihad siyasi, misalnya. Ia tidak bertujuan meraih kekuasaan, seperti banyak dituduhkan oleh orang-orang yang belum memahami Islam dan dakwahnya. Kekuasaan hanyalah sasaran antara. Hanya anak tangga. Agar Islam bisa mengatur negeri dengan keadilannya. Agar Islam menampakkan keseluruhan wajahnya; yang indah dan mempesona. Agar kaum muslimin bisa menghadirkan cinta, tanpa dihalangi oleh tirani penguasa. Lalu biarlah… dengan cinta yang telah diterimanya umat memilih. Berbondong-bondong menyempurnakan agamanya. Sebab hidayah itu kuasa Allah Azza wa Jalla.

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (QS. An-Nashr: 1-3)
Wallaahu a’lam bish shawab.

dikutip dari website : Keluarga Pelajar Islam Indonesia - 
Komunitas Pelajar Islam Sydney   (http://kpii.org)
@alfirakhair