Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Dari sahabat Tsauban r.hu berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw,
"Hampir saja bangsa-bangsa berkumpul menyerang kalian sebagaimana mereka
berkumpul untuk menyantap makanan di nampan. Salah seorang sahabat
bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami pada saat itu?” Beliau
menjawab, “Bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian
seperti buih, buih di atas lautan. Sungguh Allah benar-benar akan
mencabut rasa takut pada hati musuh kalian dan sungguh Allah benar-benar
akan menghujamkan pada hati kalian rasa wahn.” Kemudian seseorang
bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta
kepada dunia dan takut mati”.
Hadis ini menggambarkan ramalan Rasulullah saw bahwa nanti pada suatu
saat umat Islam akan terjangkiti suatu virus yang sangat berbahaya.
Virus ini pula yang menjadi penyebab umat islam menjadi bulan-bulanan
umat lain. Di mana kehidupan kaum muslimin saat itu sangat jauh dari
nilai-nilai yang telah digariskan oleh Allah dan rasul-Nya. Dari hadits
di atas tergambar bahwa tidak ada seorang pun sahabat yang menyangkal
apa yang dikatakan Rasulullah saw. Mereka justru menanyakan lebih lanjut
perihal kondisi umat Islam yang pada suatu masa, mereka tidak lagi
dipandang, tetapi menjadi obyek pelecehan dan tindak kebrutalan. Bukan
karena jumlah umat Islam yang sedikit, Virus atau penyakit yang bernama
al-Wahn-lah penyebabnya. Yaitu kecintaan pada dunia secara berlebih dan
takut akan kematian.
Pemahaman Hadis
Kaghusāis sail. Artinya, seperti buih di atas laut.
Jumlah umat islam yang kini mencapai kurang lebih 2 milyar dari penduduk
bumi ternyata tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi gelombang serangan
yang dilancarkan oleh para musuh islam. Baik serangan itu berupa Cara
Berpikir, Budaya, Informasi dan lain sebagainya. Bahkan umat islam
dijadikan sasaran pangsa pasar yang empuk. Produk-pruduk yang mereka
ciptakan baik berupa teknologi maupun peralatan-peralatan hidup
membanjiri pasar kaum msulimin. Akibatnya kaukm muslimin tidak bisa
berbuat apa-apa. Selain menjadi umat yang konsumtif. Itu baru dalam satu
bidang. Belum lagi uapaya mereka meracuni Cara Berpikir kaum muslimin
agar semakin jauh dari nilai-nilai yang telah Alah dan rasul-Nya
gariskan.
Dan bukankah gambaran Nabi saw dalam hadis di atas , bahwa posisi kaum
muslimin bagai buih di lautan yang terombang-ambing oleh besarnya ombak
laut telah menjadi kenyataan saat ini? Belum jelaskah peringatan insan
termulia tersebut sehingga kita masih tidur pulas di tengah besarnya
gelombang ombak yang terus menghantam kita sebagai umat islam?
Wala yanzaannaallah. Artinya, sungguh Allah akan mencabut.
Ketika kaum muslimin telah jauh dari nilai-nilai yang telah ditetapkan
oleh Allah dan rasul-Nya. Dan mereka begitu cintanya kepada dunia. Maka
Allah akan mencabut rasa takut dari para musuh Islam. Kaum muslimin
tidak lagi memiliki Haibah (harga diri). Kita bisa melihat sepak terjang
para musuh Islam yang dengan entengnya sering mempermainkan kaum
muslimin, seperti tuduhan Islam adalah agama teroris, penyerangan atas
negara-negara Islam timur tengah. Kita menyaksikan saudara kita kaum
muslimin di antaranya semenanjung Balkan –negeri yang pernah hidup
sejahtera selama lebih dari 300 tahun– hingga kini belum lepas dari
penderitaan akibat kekejaman pasukan Serbia. Peristiwa yang kurang lebih
sama terjadi pula atas kaum muslimin di Chechnya, negara bagian Rusia.
Belum lagi kita berbicara tentang keadaan saudara-saudara kita se-iman
lain di Jammu Kashmir, Pattani - Muang Thai, Moro - Philipina, dan
perang saudara yang tidak kunjung usai di Afghanistan; juga keadaan kita
- kaum muslimin di tanah air -yang masih dihimpit persoalan kemiskinan,
kebodohan, penggusuran, ketimpangan sosial, ketidakadilan, krisis
akhlak, kerusakan moral, pornografi dan sebagainya, makin menegaskan,
umat Islam dalam keadaan amat mundur, tidak seperti yang diisyaratkan
Allah dalam al-qur’an sebagai umat terbaik. Benarlah sinyalemaen dari
Rasulullah saw 15 abad yang lalu bahwa pada suatu masa umat Islam yang
jumlahnya lebih kurang dari 1,5 milyar dicabik-cabik bagai makanan oleh
orang-orang rakus tanpa rasa takut. Dan umat tidak bisa berbuat apa-apa
atas keadaan yang menimpanya.
al-Wahn. Artinya, Cinta dunia dan takut mati.
Cinta dunia atau hubuddunya adalah cinta berlebih kepada dunia. Cintanya
pada dunia melupakan dirinya sebagai hamba Allah swt. Akibatnya
larangan-larangan Allah swt tidak ladi diperhatikan. Tindakan korupsi,
kolusi dan nepotisme adalah contoh dari hubuddunya. Rasulullah saw
dalam hadis lain mengatakan bahwa cinta dunia adalah sumber dari segala
kesalahan. Sedangkan Utsman bin Affan mengatakan, ”Menggandrungi dunia
itu kegelapan hati dan menggandrungi akhirat adalah cahaya hati.” Orang
yang telah terjangkiti penyakit ini akan melakukan apa saja demi
mencapai keinginannya mendapatkan harta, jabatan, kekuasaan dan segala
hal yang berhubungan dengan kenikmatan dunia.
Lalu apakah dinul Islam melarang para pemeluknya untuk menjadi orang
kaya? Sama sekali tidak. Islam mengajarkan kepada para pemeluknya untuk
zuhud terhadap dunia. Dan ingat zuhud bukan berarti antipati terhadap
dunia. Sebaliknya menempatkan dunia pada tempatnya. Dunia tidak sampai
mengganggu dirinya dalam pengabdian kepada Allah swt. Orang yang zuhud
tidak memandang segala hal berdsarkan materi. Sifat zuhud inilah yang
sekarang telah luntur dari kaum muslimin di mana mereka selalu menilai
segalanya berdasar pada materi. Sahabat-sahabat Nabi saw pun banyak yang
menjadi saudagar-saudagar kaya. Tetapi kekayaan yang mereka miliki
tidak dijadikan sebagai pemuas hawa nafsu sebalilknya menggunakan harta
yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka sebagai sarana untuk
ber-taqarrub kepada Allah. Dan saking hati-hatinya para sahabat Nabi saw
terhadap kenikmatan dunia sampai sahabat Abu Bakar r.hu berdoa kepada
Allah swt, “Ya Allah jadikanlah dunia ini ada di tangan kami dan bukan
di hati kami.”
Karahiyatul maut atau takut mati merupakan buah dari sifat hubuddunya.
Di mana kecintaan yang berlebih terhadap dunia membuat seseorang takut
berpisah dari kehidupan dunia atau bahkan melupakan kematian yang
merukan suatu kepastian dari Allah swt. Hal ini telah difirmakan
oleh-Nya dalam alqur’an, ”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka
sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan.” ( Qs.al-Imran [3] : 185).
Maka memahami makna hidup di dunia dan kematian sangatlah penting bagi
seorang muslim-mukmin untuk terhindar dari virus al-Wahn tersebut.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Buang- jauh-jauh sifat hubuddunya dan takut mati.
2. Pahami dengan baik dan benar makna kehidupan dan kematian.
3. Mari bangkit menjadi umat terbaik yang berjalan di bawah koridor Neraca Syari’at.
Oase Pencerahan
Tidak dijadikannya dinul Islam sebgai way of life dalam berbagai segi
kehidupan merupakan faktor utama kemunduran Umat islam dewasa ini. Umat
telah kehilangan kemuliaannya. Seharusnya umat Islam bisa tampil
mangatur kehidupan manusia di dunia secara keseluruhan bukan yang
diatur; tampil memimpin bukan yang dipimpin. Seharusnya umat Islam
menguasai bukannya malah dikuasai. Secara faktual, potensi 1,2 milyar
umat Islam demikian besar. Tetapi kenyataannya umat sebanyak itu
berserak seperti buih, lemah tak bertenaga. Sumber daya alam yang ada
juga tidak bermanfaat banyak demi kemajuan Islam. Umat tetap
terbelakang, tercabik-cabik dan menjadi bulan-bulanan negara-negara
besar seperti yang sekarang ini tengah terjadi. Apa yang bisa diperbuat
untuk saudara kita di Palestina, Chechnya dan Bosnia? Demikian
sulitnyakah mengusir Israel yang berpenduduk hanya sekitar 7 juta dari
bumi Palestina? Bagaimana mungkin, umat yang jumlahnya semilyar lebih
keok melawan negeri yang berpenduduk lebih sedikit dari kota Jakarta.
Tapi kalau kita renungkan secara mendalam, nasib buruk ini ternyata
lebih karena keteledoran umat Islam sendiri; bukan karena musuh Islam.
Umat Islam harus menyadari bahwa rumah mereka sendirilah dalam keadaan
lemah, tak terpelihara kesehatannya, sehingga tatkala penyakit datang
mudah sekali ia berkembang dan membikin lumpuh tubuh yang seharusnya
kuat itu. Kita hanya dibuat sibuk dengan masalah-masalah yang sepele,
tentang rokok, shalat subuh pakai qunut atau tidak, beduk dan
masalah-masalah khilafiah lainnya. Betapa menyedihkannya jika hal-hal
sepele seperti itu harus mengorbankan persaudaran tanpa tepi sebgai
sesama kaum muslimin-mukmin. Tentu para Zionis dan musuh-musuh islam
akan tertawa lebar melihat keadaan kita yang demikan itu. Sebab harapan
mereka untuk memecah-belah kaum muslimin dari dalam berhasil. Jika sudah
begitu siapa yang dirugikan?
Maka setelah mengetahui hadis ini. Kita rapatkan shaf-shaf persaudaraan
kita guna menuju kebangkitan Islam. Mari kita buktikan kepada dunia
bahwa umat Islam masih mampu bangkit dari keterpurukkannya. Kita
buktikan bahwa Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Kita
buktikan bahwa Islam adalah peradaban maju yang siap mengadopsi semua
sarana kemajuan teknologi jaman digit ini. Kita buktikan kepada Iblis
dan tentaranya bahwa mereka hanya bisa menggoda sebagian orang yang
dalam Islam memang menjadi sampah dan kendala kemajuan diberikan rahmat
oleh Allah. Islam adalah rahmat Allah. Hanya orang yang tidak mengaku
Islam yang masih menjadi teman setan. Orang muslim-mukmin sepatutnya
tidak lagi mengidap penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Wa-allahu
’alam.